Thursday, August 19, 2021

Resep Capcay Low Budget tapi Tetap Sedap

DISCLAIMER. Resep-resep yang dibagikan di blog ini adalah koleksi pribadi. Sengaja di-post di sini supaya tersimpan, tidak tercecer dan mudah dicari lagi ketika dibutuhkan. Sebagian besar resep di blog ini adalah hasil olah pikir sendiri, namun ada pula yang berasal dari tempat lain kemudian dimodifikasi. Penulis berterima kasih jika ada yang recook atau menggunakan resep-resep di blog ini sebagai sumber. Pesan penulis, jangan lupa credit ya! Semoga bermanfaat. 

Capcay Low Budget, Simpel Ala Rumahan tapi Tetap Lezat dan Sedap

Sebetulnya sudah sejak lama ingin masak yang satu ini. Salah satu makanan favorit BaekHayi. Sudah ada bayangan bahan-bahan dan bumbunya, tetapi masih malas. Baru kemarin tiba-tiba niat dan akhirnya terealisasi. Hasilnya? BaekHayi lahap, suka, mantap katanya. Bocil juga doyan, habis makannya. 

Bahan-bahan isian capcay ini bisa disesuaikan dengan selera atau stok yang tersedia di rumah. Bisa diisi dengan berbagai jenis sayuran terutama wortel, brokoli, kembang kol, sawi putih, pakcoy, caisim dan putren (baby jagung). Bahan lainnya seperti udang, daging ayam, bakso, telur ayam, telur puyuh rebus bahkan daging sapi, juga bisa dimasak untuk isian utama. Jamur kancing, jamur kuping, sosis, maupun tempura juga bisa ditambahkan untuk memperkaya cita rasa. Sajian lengkap yang bisa mencukupi kebutuhan serat, protein, vitamin dan kalori sehingga baik sekali untuk dihidangkan kepada kelurga. 

Bahan-bahan:

  • 3 buah wortel ukuran sedang
  • 1 bonggol kecil sawi putih
  • 1 bonggol caisim
  • 5 buah sosis ayam (bisa diganti sosis sapi atau bakso) 
  • 10 buah putren atau baby jagung
  • 1 bonggol brokoli (bisa diganti kembang kol) 
  • Secukupnya minyak sayur untuk menumis
  • Secukupnya air untuk kuah

Bumbu-bumbu:

  • 5 siung bawang putih
  • 5 siung bawang merah
  • 1 bawang bombay
  • 1 sdt lada bubuk
  • 1 sdt garam
  • 1/2 sdt gula
  • 1 sdt kaldu bubuk
  • 1 sdm saus tiram (merk apapun, bisa diganti kecap asin atau kecap ikan) 
  • 2 sdm saus tomat
  • 1 batang daun bawang (ambil bagian putihnya saja) 
  • 2 sdm maizena

Cara memasak:

  1. Siapkan semua bahan dan bumbu. Potong-potong wortel, sosis dan putren secara tipis menyerong (atau sesuai selera). Potong-potong juga sawi putih, caisim dan brokoli. 
  2. Rajang tipis-tipis bawang bombay. 
  3. Cincang kasar bawang merah, bawang putih dan daun bawang dengan chopper. Bisa juga dirajang tipis-tipis. 
  4. Panaskan minyak sayur lalu tumis bawang bombay sampai harum dan layu. 
  5. Masukkan bumbu cincang dan tumis sampai harum. 
  6. Masukkan wortel, sosis dan putren. Tambahkan air. Tunggu sampai wortel dan putren lunak. 
  7. Sembari menunggu, larutkan maizena dalam 50 mL air, aduk sampai homogen. 
  8. Setelah wortel lunak, tambahkan lada bubuk, saus tiram, saus tomat, kaldu bubuk, garam dan gula. Aduk sampai rata. 
  9. Masukkan sawi putih dan caisim sambil diaduk agar tercampur rata dengan bumbu (gunakan api kecil karena sawi putih dan caisim cepat matang). 
  10. Masukkan larutan maizena sambil diaduk hingga matang. 
  11. Koreksi rasa lalu sajikan selagi hangat. 

This entry was posted in

Wednesday, August 18, 2021

Bring Rahardjo: Pilihan Tepat untuk Berburu Kuliner Jadul di Kota Batu

Kota yang dijuluki De Kleine Switzerland (Swiss Kecil di Pulau Jawa) ini seolah tidak pernah habis pesona dan daya tariknya. Sejak dinobatkan sebagai kota wisata beberapa tahun silam, Batu terus berusaha mengembangkan potensi daerahnya dalam rangka menghadirkan obyek tujuan pariwisata yang menarik dan bisa dinikmati berbagai kalangan. Tidak sedikit destinasi wisata kota ini yang sudah kondang, baik di dalam negeri maupun manca negara. Sebut saja Museum Angkut, Museum Satwa dan Dino Park, yang digadang-gadang termasuk dalam daftar museum terbesar di Asia bahkan dunia. Ada juga Eco Green Park, Batu Secret Zoo, Jawa Timur Park 1 serta Predator Fun Park yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi bersama keluarga. Serta masih banyak lagi tempat-tempat wisata yang patut dieksplorasi ketika berkunjung ke kota ini. Hawanya yang dingin, sejuk segar memang menjadi magnet tersendiri bagi kota yang juga dijuluki sebagai Kota Apel ini. Tercatat suhu udara rata-rata di daerah ini berkisar antara 11-20 derajat Celsius. Tidak heran jika kota ini sering dijadikan tujuan pelarian oleh wisawatan domestik maupun asing untuk menghabiskan waktu liburan, jauh dari ingar-bingar kota metropolitan. Penduduk asli kota ini pasti sudah sangat hafal kondisi lalu lintas yang macet setiap akhir pekan atau waktu libur panjang. Akses menuju tempat-tempat wisata pasti dipadati oleh kendaraan-kendaraan berplat nomor luar daerah.

Menariknya, Kota Wisata Batu ini sering disalah pahami sebagai salah satu wilayah administratif dari Kabupaten Malang atau Kota Malang. Padahal sejak tahun 2001 Batu secara resmi berdiri sendiri, tidak lagi menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Malang. Memang benar, Batu masih bagian dari wilayah Malang Raya, bersama Kabupaten Malang dan Kota Malang. Tetapi secara administratif dan pemerintahan ketiganya merupakan wilayah yang berbeda. Saya sebagai warga asli Batu kadang merasa jera jika Batu disebut-sebut atau disama-samakan dengan Malang. 

Di usia yang masih terbilang muda, hampir 20 tahun, Batu tidak pernah berhenti berbenah. Khususnya pembangunan sektor pariwisata yang semakin pesat. Di kota ini selalu ada tempat wisata baru yang patut dijelajahi. Baru-baru ini, warga Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, menggagas berdirinya Bring Rahardjo. Sebuah pasar wisata ramah lingkungan yang menyuguhkan sajian kuliner tradisional khas daerah. Letaknya di RT 2 RW 7 Dusun Jeding, sekitar 9 kilometer dari balaikota Among Tani Batu. Berada di tengah rerimbunan pohon bambu yang menjulang tinggi, pasar ini semula hanyalah tempat pembuangan sampah warga. Seperti dilansir dalam harian Surya Malang (Desember, 2019), pasar yang diresmikan pada 15 Desember 2019 ini adalah hasil olah pikir dan kerja keras warga setempat yang peduli dan ingin mengubah lingkungan kumuh menjadi lebih produktif dan bermanfaat. 

Sebagai kota wisata, Batu tentu saja memiliki kuliner khas yang menjadi identitas daerah. Seperti buah apel dan hasil olahannya (keripik, sari buah dan dodol), bakso serta Pos Ketan Legenda. Tetapi, kuliner tradisional yang kental sekali dengan nuansa tempo dulu nampaknya tidak kalah menarik untuk diulik. Sajian-sajian tradisional yang dijual di pasar Bring Rahardjo nyatanya mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Tidak hanya warga sekitar, banyak pula warga luar daerah yang datang untuk mengobati kerinduan pada jajanan tempo dulu. Suasana yang teduh, asri dan ramah anak menjadi alasan lain pengunjung betah berlama-lama di tempat ini. Penasaran? Simak ulasan-ulasan berikut ini, ya!

Menyajikan Street Food Jadul yang Tak Lekang oleh Waktu

Ciri khas pasar Bring Rahardjo memang membawa kembali kenangan tempo dulu akan kejayaan kuliner tradisional daerah. Panganan-panganan kuno seperti cenil, lupis, sawut, horok-horok, ketan dan dawet digemari oleh banyak orang hampir dari seluruh tingkatan usia. Ada pula tiwul, gatot serta aneka jamu tradisional yang segar dan menyehatkan badan. Cenil ialah sebutan untuk jajanan pasar yang terbuat dari tepung kanji atau tapioka, kemudian diberi pewarna makanan (biasanya merah dan hijau). Warnanya menarik, rasanya pun unik. Manis, kenyal dan sedikit lengket. Bersama lupis, yang terbuat dari beras ketan, cenil disajikan dengan parutan kelapa serta saus karamel gula merah. Perpaduan dan proporsi yang pas antara keempat komposisinya menghasilkan cita rasa yang sempurna, legit dan gurih. Tidak heran jika panganan ini menjadi favorit banyak orang, termasuk saya. 

Sawut dibuat dari parutan singkong yang dikukus bersama serbuk gula merah (gula merah yang disisir), lalu disajikan dengan topping parutan kelapa. Jajanan lain yang juga diberi topping serupa adalah horok-horok. Tepung beras dan air yang dibentuk gumpalan, lalu dikukus hingga matang, kemudian diparut kasar sehingga menjadi remah-remahan dan akhirnya dicampur dengan parutan kelapa. Biasanya horok-horok diberi warna merah dan hijau. Sedangkan ketan, sebagaimana umumnya, berupa kukusan beras ketan yang pulen, legit dan gurih. Kadang dicampur dengan jagung manis pipil, sehingga cita rasanya semakin kaya dan lezat. Bedanya, di tempat ini topping ketan tidak cuma parutan kelapa. Ada pula topping bubuk kacang yang rasanya manis, asin dan sedikit pedas. Sementara dawet dibuat dari tepung beras yang disajikan dengan kuah santan dan gula merah. Sensasi segar dan manis seketika terasa ketika segelas dawet melewati kerongkongan. Apalagi kalau disajikan ketika dingin dan diberi es batu. Nyess! Untuk tiwul dan gatot merujuk pada olahan dari tepung pati dan singkong yang dimakan dengan parutan kelapa. Jamu-jamu seperti beras kencur, temulawak, serta kunyit asam dibuat secara alami dan manual dari rempah-rempah pilihan yang terjamin keasliannya. 

Hidangan lain yang lebih berat, seperti nasi pecel, nasi empok, lontong sayur, bakso dan nasi bakar daun, juga tak kalah lezatnya. Pecel ialah sebutan untuk kulupan, yaitu sayur-sayuran seperti kangkung, sawi, kembang turi hingga kecambah, yang direbus sampai matang, kemudian disiram dengan saus kacang. Dipadukan dengan nasi hangat, tempe, telur ataupun ayam goreng. Tidak lupa peyek dan kerupuk yang renyah. Makanan khas Jawa Timur ini memang tidak asing dan sudah terkenal di Indonesia. Sedangkan nasi empok ialah sebutan untuk menu nasi jagung. Nasi putih dan serbuk jagung dicampur dan dikukus bersama-sama hingga matang. Kemudian diberi lauk beraneka rupa seperti lodeh tahu tempe pedas, pokak, krengsengan krecek, kulupan (sayur rebus), mendol (perkedel tempe) dan ikan asin. Rasanya tak perlu diragukan. Nikmat dan lezat! Cita rasa khas yang unik dan kaya, membuat rindu suasana tempo dulu. Makanan ini tidak akan kita jumpai di tempat lain, hanya ada di Batu. Sedangkan lontong sayur merupakan hidangan lontong beras yang dimakan dengan orem-orem, yaitu sayur kuah santan seperti gulai atau opor. Biasanya berisi kentang, tahu dan tempe yang dipotong dadu, lalu ditambah kaldu ayam, ceker, atau udang. Untuk bakso dan nasi bakar yang dijual ialah hidangan yang dibuat dengan ciri khas gaya Malang-an. Seperti yang kita tahu, bakso Malang adalah bakso yang dikenal fenomenal di Indonesia. Untuk nasi bakar sendiri mempunyai aroma yang istimewa. Aroma ini dihasilkan dari proses pemanggangan daun pisang yang membungkus nasi berbumbu dengan isian lauk di dalamnya. 

Dulu panganan-panganan di atas bisa ditemukan dengan mudah di pasar-pasar maupun warung-warung di pinggir jalan, sehingga menjadi ragam street food asli khas Indonesia, khususnya Jawa. Kuliner legendaris yang mewakili corak budaya dan karakteristik bangsa. Namun sayang, sekarang semua itu tidak mudah kita temukan. Street food saat ini lebih didominasi berbagai olahan modern seperti boba, ayam geprek, mie setan-setanan, hingga makanan luar negeri seperti Korea, Jepang dan Thailand yang mulai menjamur di Indonesia. 

Meski demikian, Bring Rahardjo tetap teguh menyuguhkan sajian kuliner tradisional khas nusantara, seperti yang saya sebut di atas. Antusiasme pengunjung yang tinggi menunjukkan bahwa ragam kuliner tempo dulu nyatanya tidak pernah lapuk oleh waktu, pun tidak lekang dimakan zaman. Banyak orang yang ternyata merindukan panganan-pangan jadul ini. Apalagi harganya yang murah, berkisar antara tiga ribu sampai sepuluh ribuan, sayang sekali kalau tidak dicicipi dan dilewatkan begitu saja. Meskipun murah, tidak lantas menjadi alasan makanan-makanan jadul ini tidak lezat. Semua tetap dibuat oleh tangan-tangan berpengalaman yang telah mewarisi resep turun-temurun dari nenek moyang zaman dulu. Selain murah, pengunjung juga tidak perlu membayar tiket untuk masuk ke Bring Rahardjo. Gratis! Cukup mengikuti aturan untuk saling menjaga sesama dan lingkungan, pengunjung bisa memilih dan membeli jajanan apapun sesuai selera dengan leluasa. 

Hanya Buka pada Hari Minggu dan Menjadi Pusat Kegiatan Warga 

Meskipun bebas dikunjungi, sayangnya Bring Rahardjo hanya digelar setiap hari Minggu. Pada hari-hari biasa, Bring Rahardjo kembali menjadi lokasi rerimbunan pohon bambu di dekat sumber air yang menjadi jantung masyarkat setempat. Artinya, kita bisa menikmati sajian kuliner tempo dulu hanya pada hari Minggu ketika pasar beroperasi. Pada momen-momen tertentu, seperti kunjungan pejabat, rapat kerja pemerintah dan selamatan desa, pasar wisata Bring Rahardjo kadang digelar. Tetapi pengunjungnya tidak seramai hari Minggu sebagaimana lazimnya. 

Selain menjadi tujuan wisata, Bring Rahardjo juga menjadi pusat kegiatan masyarakat setempat. Kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan keluarga miskin juga beberapa kali diselenggarakan di tempat ini. Begitu pula tasyakuran atau selamatan desa dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI yang rutin setiap tahun digelar di pelataran punden, tidak jauh dari stand pasar. Bring Rahardjo bahkan menjadi pusat edukasi anak-anak sekolah ketika pandemi. Atas inisiatif para pemuda setempat, anak-anak difasilitasi dengan akses internet untuk sekolah daring, serta tutor untuk membantu dalam mengerjakan tugas sekolah. Hingga saat ini (di luar masa PPKM), lingkungan pasar wisata ini juga sering menjadi pusat kegiatan pembelajaran outdoor bagi anak-anak usia dini dan santri-santri TPQ terdekat. 

Mengusung Gagasan Konservasi Lingkungan yang Ramah Anak

Dilansir Kumparan Tugu Malang (April, 2021) konsep utama Bring Rahardjo ialah konservasi lingkungan dan cagar budaya. Di dekat rerimbunan pohon bambu yang menjadi lokasi pasar wisata, terdapat mata air yang disakralkan dan menjadi sumber kehidupan warga setempat, yaitu Sumber Tirto Mulyo. Adanya situs punden di lokasi ini pun erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Junrejo. Oleh karena itu, demi menjaga kelestarian sumber dan alam sekitar, digagaslah Bring Rahardjo dengan memanfaatkan lahan terbengkalai di tengah pepohonan bambu yang rimbun dan menjulang tinggi. Sempat menjadi tempat pembuangan sampah yang tidak terurus, kini Bring Rahardjo menjelma sebagai destinasi wisata kuliner yang asri dan rapi. Senada dengan kondisi tersebut, stand-stand penjual makanan juga dibangun dengan memanfaatkan bambu, dahan-dahan dan dedaunan kering sebagai atapnya. Tak kurang ada sekitar tiga puluh stand kuliner yang beroperasi di tempat ini. Gazebo-gazebo bambu dan kayu didirikan di berbagai sudut guna menunjang kenyamanan pengunjung ketika menikmati makanannya. Tempat sampah juga disediakan cukup banyak, sehingga tidak ada alasan lagi untuk membuang sampah sembarangan. Sebagai wisatawan yang baik, pengunjung diharapkan turut bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan keindahan lokasi bazar kuliner. Bukan malah merusak fasilitas yang tersedia demi keindahan feed instagram dan kesenangan semata. Berwisata secara bijaksana hendaknya juga dimaknai dengan berwisata tanpa merusak alam. 

Selain ramah lingkungan, Bring Rahardjo juga diklaim sebagai lokasi wisata yang ramah anak. Masih di area yang sama, di dekat sumber mata air dan pasar, dibangun kolam pemandian khusus untuk anak-anak. Di tempat ini anak-anak bisa bermain air sepuasnya. Airnya pun bersih dan jernih. Ada pula galeri seni yang tak jauh dari lokasi pasar dan bisa menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Mereka bisa belajar tentang seni rupa, khususnya seni lukis dan pahat. Tak hanya itu, anak-anak dari lingkungan setempat juga piawai mempertunjukkan kesenian musik gamelan yang dipadukan dengan perkusi. Seni musik kontemporer ini ditampilkan secara apik dan kompak di panggung kreasi yang ada di tengah pasar. Komplit bukan? Sembari menikmati hidangan tempo dulu, kita bisa merasakan embusan angin yang sejuk di antara pepohonan bambu dan pemandangan alam yang hijau menyegarkan mata, serta dihibur oleh musik kontemporer yang memanjakan telinga. 

Manfaat yang Dirasakan oleh Warga Lokal

Kehadiran pasar wisata Bring Rahardjo telah memberikan dampak yang nyata bagi warga setempat. Menurut penuturan para pelaku pasar, terutama penjual makanan, adanya Bring Rahardjo turut menambah pundi-pundi ekonomi mereka. Pasar ini telah menjadi lumbung baru bagi warga sekitar untuk meningkatkan pendapatan mereka dengan berjualan panganan tradisional. Salah seorang penjual nasi bakar mengaku senang sekali karena makanan buatannya selalu habis terjual. Pelanggannya bahkan berasal dari luar kota seperti Mojokerto, Malang, Pasuruan hingga Surabaya. Karena banyaknya permintaan, ia sampai harus membuat nasi bakar di luar jam operasional pasar dan melayani pembeli dari rumahnya. Warga lainnya turut menambahkan, dengan berjualan di Bring Rahardjo mereka bisa mengisi waktu luang sambil menghasilkan uang. Ini tentu sangat positif terutama bagi para janda yang ada wilayah setempat. Mereka yang sebelumnya anteng-antengan di rumah, kini jadi lebih aktif dan produktif serta memiliki penghasilan. 

Hakikatnya, Bring Rahardjo merupakan simbol kebersamaan dan semangat gotong royong warga Desa Junrejo. Semangat ini ditunjukkan dengan kekompakan ketika membangun pasar wisata, membersihkan, merapikan dan mempercantik area hutan bambu lalu menyulapnya menjadi lumbung pendapatan warga. Dalam menjaga pasar wisata pun mereka senantiasa bergerak bersama-sama. Tak pelak, Bring Rahardjo telah menjadi sarana silaturahmi tersendiri bagi warga setempat. Sarana berkumpul dan bertukar pikiran, sekaligus wadah aspirasi yang berasal dari warga, oleh warga dan untuk warga. Semakin dikembangkan, semakin banyak pula orang luar daerah yang mengenal Bring Rahardjo. Tempat ini semakin ramai dikunjungi dan tentu saja sedikit banyak berimbas pada kesejahteraan warga sekitar. 

Menjadi Aset Keanekaragaman Budaya Nusantara yang Patut Dibanggakan

Dengan segudang keunikan dan daya tariknya, mulai dari ragam street food tradisional, lingkungan alam yang hijau dan asri, serta kekayaan budaya masyarakat setempat, patut kiranya Bring Rahardjo dijadikan sebagai salah satu aset daerah yang berharga. Dan, sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga, melindungi, melestarikan serta mengembangkannya. Ragam kuliner yang unik dan menarik di dalamnya mungkin tidak akan pernah kita temui di belahan dunia yang lain. Resep-resep turun-temurun ini juga merupakan hasil cipta karsa dan budaya khas bangsa. Sehingga sudah sepantasnya untuk dilestarikan agar tidak punah ditelan zaman. Lagipula, diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Dengan keanekaragaman olahan pangan di daerah tentu akan terus mendongkrak produksi bahan pangan di tingkat daerah maupun nasional. Harapan ke depannya, ketahanan pangan dapat tercapai dengan maksimal melalui kampanye makan makanan lokal dan ragam kuliner nusantara. 

Yang tidak kalah penting adalah kita wajib menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Bring Rahardjo, yang identik dengan wisata kuliner bernuansa alam, membutuhkan lingkungan yang tetap terjaga dan tidak tercemar agar terus beroperasi dan semakin berkembang. Bayangkan apa jadinya jika lingkungan setempat tidak dijaga dengan baik, dibiarkan kumuh dan tidak terawat. Mungkin tidak akan ada Bring Rahardjo dalam catatan sejarah desa Junrejo. Setelah ada, kewajiban sekarang adalah memelihara dan mempertahankan. Itulah kenapa menjaga lingkungan hidup menjadi penting sekali untuk digalakkan. Dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup, kita telah berkontribusi untuk menjaga keanekaragaman kuliner nusantara yang ditawarkan oleh Bring Rahardjo. Melestarikan budaya, termasuk kuliner tradisional khas daerah, artinya ikut menjaga lingkungan. 

Menjaga Kelestarian Alam dan Mengembangkan Potensi Sekitar

Kita patut bersyukur dan bangga, Tuhan menganugerahkan keanekaragaman budaya, alam, serta kuliner yang melimpah ruah di seluruh penjuru nusantara. Keanekaragaman ini merupakan nikmat yang mungkin tidak ada di negara lain. Sebelum terkikis oleh modernisasi, kekayaan ini harus kita rawat sebaik mungkin dengan penuh tanggung jawab agar kelak bisa diwariskan kepada generasi anak cucu di masa depan. 

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan kekayaan nusantara. Termasuk Being Rahardjo yang mencakup kekayaan ragam kuliner, alam dan budaya daerah. Beberapa cara yang bisa dilakukan di antaranya yaitu:

  • Mencintai kuliner tradisional nusantara, seperti jajan pasar dan menu khas daerah, layaknya harta berharga. Kuliner nusantara juga merupakan peninggalan budaya asli bangsa dari generasi terdahulu yang perlu dilestarikan. 
  • Mengenalkan atau mempromosikan kuliner nusantara ke luar daerah maupun luar negeri. Tidak perlu merasa malu dan minder dengan kuliner tempo dulu. Justru kita seharusnya bisa membawa cita rasa khas nusantara ini bersaing dengan kuliner modern yang saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh gaya negara lain. Kuno bukan berarti primitif, melainkan eksotis dengan daya tariknya sendiri. 
  • Mengajarkan dan mewariskan resep turun-temurun kepada generasi muda. Agar tidak terkikis oleh zaman, generasi anak cucu perlu belajar dan berlatih membuat hidangan-hidangan tempo dulu. Dengan begitu, makanan-makanan ini bisa terus dibuat meski generasi tua telah berlalu.
  • Berkreasi dan berinovasi tanpa menghilangkan unsur asli yang menjadi ciri khas kuliner nusantara. Ide dan kreativitas memang tanpa batas. Memodifikasi resep jajanan tempo dulu sesuai selera pun memang tidak dilarang. Namun, resep-resep otentik kuliner tradisional tetap harus dipertahankan. Pakem-pakemnya tidak boleh dilupakan agar identitas budaya nusantara tetap nampak dan kental terasa.
  • Berpartisipasi aktif dalam kampanye cinta alam. Demi menjaga kelestarian lingkungan yang menopang ragam budaya dan kuliner nusantara, kita harus turut berkontrubusi nyata. Mulai dari yang paling sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sekitar. 
  • Menjadi wisatawan yang cerdas. Berwisata dengan cerdas dan bijak artinya turut bertanggung jawab menjaga kelestarian tempat wisata. Update di sosial media tentang aktivitas berwisata memang sudah menjadi gaya hidup masa kini yang sulit dihindari. Tetapi merusak tempat wisata yang dikunjungi adalah gaya hidup yang norak dan tidak manusiawi. 

Terakhir, Tuhan telah melimpahkan anugerah yang begitu besar di bumi nusantara ini. Mulai dari keanekaragaman flora, fauna, wisata, budaya hingga kuliner khas. Kewajiban kita semua untuk senantiasa bersyukur, memelihara dengan penuh tanggung jawab, serta mengembangkan potensi menjadi lebih maju demi kesejahteraan bersama. Bring Rahardjo adalah salah satu bukti nyata wisata daerah yang memuat ragam kuliner, alam serta budaya. Kita bisa mengobati rindu pada jajanan pasar dan aneka makanan tempo dulu di tempat yang ramah lingkungan dan dekat dengan alam. Kelestarian tempat wisata ini harus selalu dijaga bersama-sama agar tetap ada dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang, baik lokal, domestik maupun manca negara. 

Referensi

  1. Zaenuddin H.M., Asal usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe. Cetakan I: Oktober 2013. ISBN 978-602-11-3930-1. hal. 63-68
  2. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Batu. Diakses pada 2021-08-16.
  3. https://kumparan.com/tugumalang/wisata-bring-rahardjo-kota-batu-suguhkan-kuliner-tradisional-bernuansa-alam-1vUG0nhYxPh. Diakses pada 2021-08-16.
  4. https://suryamalang.tribunnews.com/amp/2019/12/15/pasar-wisata-bring-rahardjo-dibuka-di-junrejo-kota-batu. Diakses pada 2021-08-16.
  5. https://www.malangtimes.com/amp/baca/44276/20190922/174300/suasana-tempo-doeloe-pasar-bring-rahardjo-hadir-di-desa-junrejo-kota-batu. Diakses pada 2021-08-16.
  6. https://m.liputan6.com/amp/4535959/bring-rahardjo-dari-tempat-buang-sampah-jadi-spot-nongkrong-asyik-di-batu-malang. Diakses pada 2021-08-16.


Friday, July 30, 2021

[Part 2] Isolasi Mandiri: Bagaimana Rasanya dan Apa Saja yang Dilakukan?

Terhitung sejak tanggal 7 Juli sampai 17 Juli 2021 lalu, saya resmi menjalani isolasi mandiri. Anggota keluarga yang lain, yaitu anak dan suami, juga harus menjalani karantina karena kontak erat dengan saya. Untungnya, waktu itu suami kebetulan jadwalnya WFH. Jadi bisa bekerja sambil momong anak kami yang masih berumur 1 tahun.

Selama menjalani isolasi mandiri (isoman), banyak hal yang saya alami. Pengalaman fisik, psikis hingga religius. Meski sempat tidak percaya, denial, tapi akhirnya saya bisa berdamai dengan takdir dan menjalani ikhlas. Tidak ada beban. Sampai hari terakhir isoman, semua berjalan dengan baik. Nah, di postingan ini saya ingin berbagi pengalaman tersebut. Semoga bisa menambah informasi, menjadi pelajaran, atau paling tidak menjadi penyemangat bagi pembaca yang mungkin saat ini sedang berjuang melawan virus Covid-19 ini. 

Menerima Kenyataan dengan Ikhlas dan Sabar

Pertama kali yang harus dilakukan ketika terdiagnosis atau terkonfirmasi positif Covid-19 adalah menerima dengan ikhlas dan sabar. Denial atau ragu, syok dan tidak percaya wajar sekali dialami. Apalagi kalau kita merasa tidak pernah kontak dengan pasien, sudah menaati prokes dengan baik, dan tidak pernah keluar rumah. Saya mengalami itu semua. Saya dan keluarga rasanya sudah sangat hati-hati. Sudah sangat membatasi interaksi langsung dengan orang lain. Bahkan mungkin para tetangga berpikir kami orang yang anti sosial dan tertutup, saking jarangnya kami muncul di lingkungan sekitar. Jadi, ketika saya terdiagnosis positif, kami sempat ragu. Ah, nggak mungkin. Kok bisa? Ketularan dari mana coba? Begitu pikir kami waktu itu. 

Tetapi, semakin denial justru membikin saya emosi dan geregetan dengan virus ini. Semakin saya jengkel dibuatnya. Dan akhirnya malah membuat kemarahan saya berlarut-larut, yang tentu tidak baik bagi kesehatan terutama psikis atau mental. Karena itu, yang pertama kali harus dilakukan adalah penerimaan. Terima kenyataannya kalau kita memang positif. Akui bahwa virus ini sedang hidup di dalam diri kita. Akui bahwa kita sedang terinfeksi. Toh sudah terlanjur. Positif covid-19 bukan aib (masih ada yang menganggap aib kah?). Semua orang, siapa saja, bisa terinfeksi. Jadi tidak perlu malu mengakui. Memang sulit dihindari. Terus mau bagaimana lagi. Tidak ada orang yang mau sakit, tapi kalau sudah takdir, kita bisa apa selain menerima. Marah, kecewa dan stres tidak ada gunanya. Lebih baik fokus pada langkah selanjutnya. Terima saja dengan lapang dada, legowo. Lalu ikhtiar, berjuang semaksimal mungkin untuk sembuh. Kuncinya adalah sabar, sabar dan sabar. 

Anosmia Selama Beberapa Hari

Sebelum positif, saya sudah sering membaca, sering mendengar juga bahwa salah satu tanda yang umum sekali dialami oleh orang yang positif adalah anosmia. Kehilangan indra penciuman. Pasti sudah tidak asing 'kan? Sudah hampir dua tahun dunia diselimuti pandemi. Anosmia bukan istilah yang asing lagi. 

Begitu sadar mengalami anosmia, saya langsung memulai isoman. Itu menjadi hari pertama saya bertempur dengan virus ini. Tiba-tiba mengalami anosmia rasanya memang tidak nyaman dan aneh sekali. Seperti seperti ada yang janggal dalam hidup. Punya hidung, ada lubangnya, tidak buntu, tapi tidak bisa membau. Benar-benar terjadi secara tiba-tiba. Benar-benar tidak bisa membau sama sekali. Blass... Nggak ada bau-bau yang bisa dideteksi, meskipun hidung sudah mengendus-endus nempel ke sumber bau. Hari kedua masih sama seperti sebelumnya. Tidak bisa membau apapun. Belum bisa mencium aroma bawang dan cabe yang ditumis. Hari ketiga masih belum ada perubahan. Baru di hari keempat secerca harapan tumbuh. Bau 'nyegrak' minyak kayu putih sedikit mulai tercium menusuk hidung. Itu pun harus dioleskan dulu di hidung--dan ini panas ya di kulit, tapi demi kembali normal saya jabanin aja, sampai merah dan perih cuping hidung saya. Tetapi bau-bau yang lain masih belum bisa terdeteksi. 

Hari kelima, semakin membaik. Tidak hanya minyak kayu putih, saya mulai bisa mencium minyak telon, minyak rambut, baby oil, sampai minyak tawon. Walaupun masih harus menempelkan sumber bau ke hidung, tetapi kemajuan sekali karena sudah bisa mencium beberapa bau. Hari keenam semakin membaik lagi. Saya sudah bisa membedakan aroma-aroma yang biasa ada di sekitar saya. Dan setelah seminggu hidung saya kembali, meski belum normal seratus persen. Hampir semua yang mengeluarkan aroma khas, atau bau apapun, bisa saya endus tanpa harus ditempelkan dengan hidung. Ketika mandi dan bisa mencium kembali wangi sabun dan sampo, subhanallah gembira sekali. Saking bahagianya sampai mbrabak mata saya. Terharu. Agak lebay ya, tapi ini sungguh-sungguh yang saya alami. Tidak bisa mencium bau apapun rasanya hidup seperti hampa. Saya masih beruntung karena hanga mengalami anosmia, tanpa ageusia. Lidah masih normal, bisa merasakan makanan dengan baik seperti biasa. Saya tidak bisa membayangkan mereka yang mengalami anosmia dan ageusia sekaligus. Pasti lebih hampa hidupnya. 

Nah, ada yang menarik tentang anosmia ini. Selain terjadinya yang tiba-tiba, benar-benar datang tak diundang, kabarnya orang yang positif lalu anosmia biasanya tidak akan mengalami gejala lain yang lebih berat. Dari berbagai artikel yang saya baca, serta penuturan teman-teman nakes, pasien-pasien bergejala berat yang sampai dirawat di ruang ICU, hampir tidak ada ada yang merasakan anosmia. Sebagai orang awam saya tidak tahu apakah ini fakta atau mitos, bagaimana penjelasannya secara ilmiah dan bagaimana korelasinya antara anosmia dengan gejala ringan atau berat. Namun, sebagai alumni Covid-19 saya memang mengalami gejala ringan, yaitu anosmia saja selama beberapa hari. Dan alhamdulillah tidak ada gejala lain yang lebih berat yang saya alami. 

Untuk mempercepat pemulihan gejala anosmia, saya juga berlatih membau. Sehari dua kali, pagi dan sore, saya rutin berlatih dengan cara mengendus aroma-aroma yang familiar seperti minyak kayu putih, minyak telon, minyak tawon, parfum bayi, lotion, jeruk nipis, hingga cairan karbol (dengan hati-hati agar tidak sampai terhirup). Dari sumber yang saya baca, dengan berlatih mencium bau, hidung akan bekerja lebih keras dan otak akan dipaksa untuk mengingat kembali memori akan aroma-aroma familiar yang biasa kita cium. Terapi ini kabarnya bisa mempercepat pemulihan anosmia. Kadang-kadang, saya juga menyelipkan tisu yang dibasahi minyak kayu putih ke dalam masker. Upaya ini cukup membantu karena aroma yang tajam dari minyak kayu putih akan seketika menusuk hidung begitu terhirup. Meskipun masih samar-samar baunya tetapi ada sensasi plong ketika hidung menghirupnya. Saking semangatnya latihan mencium bau, hidung sampai panas dan agak perih karena terlalu banyak ditempeli minyak kayu putih yang notabene panas di kulit. Mata tidak jarang menangis pula dibuatnya. Tertarik mencoba? Hihi. 

Fokus Meningkatkan Imunitas Tubuh

Seperti yang sering kita dengar, Covid-19 ini sebetulnya bisa sembuh sendiri karena kita memiliki sistem kekebalan tubuh yang akan melawan virus. Seperti halnya flu biasa. Virus yang masuk akan dikalahkan oleh sistem imun. Jadi, yang perlu dilakukan adalah memperkuat sistem imun tubuh itu sendiri. 

Tidak perlu mengonsumsi obat macam-macam jika memang tidak ada gejala yang parah. Kalau demam dan nyeri, cukup konsumsi paracetamol. Saya sendiri selama isoman tidak pernah minum paracetamol, walaupun sudah menyiapkan stok. Karena memang hampir tidak mengalami demam, nyeri dan sebagainya. Alih-alih paracetamol, saya lebih banyak mengonsumsi suplemen untuk menguatkan sistem imun. Setiap hari rutin minum kapsul vitamin C 500mg dan vitamin D 5000 IU. Saya juga tidak ngawur mengonsumsinya. Tentu setelah konsultasi dengan tenaga kesehatan yang juga selalu memantau kondisi saya dari jauh. 

Bagaimana dengan berjemur? Bisa. Berjemur langsung di bawah sinar matahari pada dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan kadar vitamin D yang diproduksi dalam tubuh. Vitamin ini juga penting untuk menjaga sistem imun. Tetapi karena kondisi pandemi yang parah di sekitar saya, berjemur di luar rumah justru akan memperbanyak peluang kontak dengan orang lain sehingga berpotensi saling menularkan virus. Dengan kondisi seperti ini tidak memungkinkan sekali bagi saya untuk berjemur di luar rumah. Sebagai gantinya, saya disarankan untuk rutin minum kapsul vitamin D setiap hari, seperti yang saya sampaikan tadi. 

Menjaga Pola Makan dan Istirahat Cukup

Makan makanan yang bergizi dan seimbang juga penting untuk kesehatan dan kekebalan tubuh. Beruntung saya tidak kehilangan nafsu makan. Di luar sana banyak pasien yang mengalami penurunan nafsu makan ketika positif. Saya justru sebaliknya. Nafsu makan meningkat tajam selama isoman. Nasi yang seharusnya bisa dimakan tiga porsi, hanya cukup untuk dua porsi makan (ini sakit beneran apa gimana, entahlah). Antara doyan dan lebih cepat lapar hampir tidak ada bedanya. Yang jelas, makan apapun rasanya nikmat sekali. 

Selain makanan utama, masih ada juga cemilan, yang selalu 'ready stock' di rumah. Entah buah-buahan, roti maupun biskuit. Dari dulu saya memang suka ngemil. Ketika isoman pun kebiasaan itu tidak berubah. Meskipun banyak yang bilang kalau seharusnya saya mengurangi atau membatasi makanan-makanan manis karena virus ini doyan gula. Tetapi hasrat untuk ngemil tidak tertahan, yeorobun! Asalkan tidak ngemil tengah malam, tidak ada masalah, pikir saya. 

Yang tidak kalah penting juga memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Minimal dua liter air putih perhari. Selama isoman saya lebih menyukai air hangat daripada air dingin atau es. Karena menurut saya pada kondisi normal (tidak anosmia) air hangat mempunyai bau yang khas, tidak seperti air dingin yang tidak berbau. Harapannya dengan minum air hangat bisa mempercepat pemulihan anosmia saya. Setiap sore saya juga rutin minum jahe hangat tanpa gula. Mengingat jahe mempunyai segudang manfaat untuk tubuh, tidak ada salahnya dikonsumsi rutin, di samping memberi efek hangat di tenggorokan dan perut. Sebagai pecinta kopi tanpa ampas, saya juga menghentikan kebiasaan minum kopi selama isoman demi mencegah hal-hal yang tidak diharapkan seperti insomnia hingga jantung berdebar-debar. 

Dan, jangan lupa istirahat yang cukup. Pola makan sudah, kecukupan air putih juga sudah. Istirahat pun tidak boleh disepelekan. Selama isoman saya sebisa mungkin tidur jam 9 malam, maksimal jam 10. Pagi bangun jam 4 subuh. Tidak lupa menyempatkan tidur siang, yah, tiga puluh sampai enam puluh menit lah. Suami juga sangat mengerti kondisi dan kebutuhan waktu istirahat ini, demi pemulihan diri yang lebih cepat. Hampir dua minggu saya juga mengurangi aktivitas fisik yang berat dan bisa menimbulkan kelelahan. Bukan berarti karena harus banyak istirahat jadi malas-malasan. Aktivitas sehari-hari yang sanggup saya lakukan, tetap saya kerjakan seperti biasa. Namun, tidak sekeras dan serajin biasanya. Lebih santai dan kalem agar tidak sampai kelelahan. 

Membatasi Kontak dengan Anak adalah Ujian Lain yang Tidak Kalah Berat

Anak kami masih berusia tiga belas bulan, fase lucu-lucunya. Sudah menjadi naluri anak untuk ingin selalu dekat-dekat dengan ibunya, apalagi jika si anak masih menyusu ASI. Ini juga merupakan cobaan berat bagi saya. Biasanya saya akan menggendong, memeluk dan menciumi anak saya ketika bangun tidur. Makan bersama sambil menyuapinya. Menemaninya bermain, menjawab celoteh-celotehannya, membacakannya buku cerita, memandikan dan lain sebagainya. Ketika isoman saya tidak bisa melakukan semua itu. 

Meskipun masih tinggal di bawah atap yang sama, tetapi saya harus menjaga jarak semaksimal mungkin dari anak. Sering kali anak mendekat, menempel, tetapi saya harus menolak. Kontak hanya terjadi ketika menyusui. Dan itu pun harus benar-benar diusahakan tidak menularkan virus. Aktivitas yang lain, yang biasanya saya lakukan dengan anak secara langsung, sementara waktu harus digantikan oleh suami, apalagi tidak ada asisten atau pengasuh di rumah kami. Saya dan suami harus benar-benar pandai mengendalikan keadaan. 

Keep Positive Thinking demi Kesehatan Jiwa dan Mental

Saya tidak menyangkal kalau pikiran 'macam-macam' itu ada. Pasti ada lah, ya. Seperti bagaimana kalau besok sesak napas? Cari oksigen di mana? Kalau lebih parah besok ke rumah sakit mana? Ada rumah sakit kosong nggak? Bagaimana kalau tiba-tiba drop? Sampai yang paling menakutkan, bagaimana kalau saya besok mati? Apalagi waktu itu tiap hari selalu ada berita duka gara-gara Covid-19, entah broadcast di grup WhatsApp keluarga, teman angkatan sampai Instagram. Yang paling parah dan sempat membuat saya mental breakdown saat itu, ada teman angkatan kuliah yang wafat padahal sehari sebelumnya masih bisa chattingan, meskipun sudah masuk ICU. Tiba-tiba kondisinya drop, kritis dan akhirnya tidak selamat. Virus ini cepat sekali memperparah kondisinya. Sedihnya lagi beliau ini masih pengantin baru dan sedang dalam kondisi mengandung. Janinnya pun tidak bisa diselamatkan (alfatihah untuk beliau). Begitu mendengar kabarnya dari teman-teman, saya terperanjat, langsung diam. Merinding. Kabar duka yang sangat tiba-tiba ini cukup mempengaruhi saya dan membikin overthinking. 

Untungnya dukungan dari suami begitu besar. Begitu pula orang tua yang jauh di kampung dan sahabat-sahabat terdekat yang tidak pernah bosan menghibur dan memberi semangat. Support system ini yang akhirnya membuat akal dan pikiran jiwa saya tetap di jalur yang waras. Membuat saya tetap optimis, positive thinking dan yakin bahwa saya bisa melalui semua ini dengan baik. Tanpa mereka, mungkin saya akan berlarut-larut dalam pikiran suram dan ketakutan yang berlebihan, padahal jelas ini tidak baik untuk kesehatan dan imunitas tubuh. 

Demi mengurangi paparan berita negatif yang seperti datang bertubi-tubi, saya sempat memutuskan untuk 'hibernasi' atau hiatus dari dunia maya. Cukup hidup di dunia nyata dan fokus pada hal yang menyenangkan saja. Saya juga menonaktifkan semua notifikasi grup WhatsApp. Lebih banyak meluangkan waktu untuk menulis, membaca konten positif di blog, hingga melakukan kegiatan yang saya sukai seperti nonton film, drama Korea dan mendengarkan musik. Intinya adalah sebisa mungkin menjauhi distraksi sosial media dan konten-konten yang berpotensi menurunkan semangat dan motivasi. Beberapa hari hibernasi ternyata memang membuat hidup saya lebih menyenangkan, tenang, ceria dan tanpa beban. 

Meningkatkan Kualitas Ibadah

Poin ini sebetulnya masih ada kaitannya dengan poin sebelumnya. Sebagai seorang muslim, saya merasa lebih tenang ketika bisa mengerjakan salat dengan nyaman dan tanpa gangguan. Isoman adalah waktu yang tepat untuk merefleksi ibadah saya selama ini. Saya berusaha lebih khusyuk dan santai mengerjakan salat, lebih sering membaca Al-Quran, pun lebih banyak berdzikir dan salawat. 

Sering kali kita tidak sadar bahwa bisa mengerjakan ibadah dengan leluasa juga merupakan nikmat dan karunia yang besar. Seharusnya kita bersyukur, karena di luar sana masih banyak yang harus sembunyi-sembunyi mengerjakan salat, harus berlomba-lomba dengan meriam untuk melaksanakan ibadah lain. Momen hibernasi menjadi titik tolak bagi saya untuk mengevaluasi kembali ibadah-ibadah yang selama ini saya lakukan. Bisa jadi Allah mencabut nyawa saya sewaktu-waktu, entah besok atau nanti, bukan hanya karena penyakit. Kalau Allah sudah berkehendak dan menetapkan takdir-Nya, siapa yang bisa menghindar? Pandemi, virus, Covid-19 atau penyakit hanyalah salah satu cara atau perantara Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk mencabut nyawa manusia. Tanpa itu semua pun manusia tetap akan menemui ajal pada akhirnya. Karena itu saya mencoba untuk pasrah, tawakkal sambil meningkatkan kualitas ibadah saya sebagai salah satu wujud ikhtiar dan persiapan untuk kehidupan yang lebih kekal. Siapa yang menyangka kalau ternyata isoman juga bisa menjadi salah satu bagian dari perjalanan spiritual kita? 

Hari demi hari, setelah dua minggu saya akhirnya resmi lulus sebagai sarjana Covid-19. Sabar, ikhlas dan tawakkal adalah kunci saya bisa menjalani semuanya dengan baik. Saya termasuk beruntung karena tidak mengalami gejala berat hingga membutuhkan penanganan khusus di rumah sakit. Sekarang, setelah sembuh, tugas saya adalah menunggu vaksinasi. Menurut aturan di Indonesia, penyintas dapat menerima vaksinasi setelah tiga bulan dinyatakan sembuh dan tidak ada gejala. Semoga saudara-saudara yang saat ini masih berjuang melawan virus ini segera diberi kesembuhan, para relawan dan tenaga medis diberi kekuatan, serta Indonesia dan dunia segera bangkit dari pandemi. Aamiin. 


Friday, July 23, 2021

[Part 1] Isolasi Mandiri: Awal Mula Terindikasi Positif

Pengalaman ini mungkin menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam hidup saya. Shock, kaget, sedikit panik dan denial. Tanggal 7 Juli 2021 saya mau tidak mau harus menjalani isolasi mandiri hingga minimal sepuluh hari atau bahkan lebih. Saya tidak menyangka kalau akan menjadi calon alumni covid-19 gelombang kedua tahun ini. Semoga tidak terulang lagi di tahun-tahun yang akan datang. Atau bahkan di hari-hari, minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya. 

Rasanya tidak salah kalau saya katakan saat ini Indonesia memasuki fase gelombang kedua pandemi global Covid-19. Sebab, beberapa waktu lalu, kira-kira sebelum lebaran idul fitri, angka kasus Covid-19 sempat turun dan melandai. Tetapi pasca lebaran, persisnya kapan saya lupa, jumlah pasien positif tiba-tiba melonjak drastis. Dan, saya tidak menyangka bahwa saya akan termasuk dalam daftar itu meski tidak terlaporkan secara resmi. Kenapa saya katakan demikian? Nanti akan saya jawab. Yang jelas, sekarang rasanya virus ini semakin cepat menular. Tahun lalu rasanya masih jauh dari kami. Tapi tahun ini seperti sudah dekat sekali. Sudah mulai menyusup ke circle kami, bahkan yang terdekat, yaitu keluarga. 

First of all, saya ingin menceritakan dulu bagaimana kronologinya saya terindikasi positif Covid-19. Sore itu, tanggal 7 Juli 2021, setelah memandikan si kecil saya tiba-tiba mengalami anosmia. Sebetulnya sehari sebelumnya saya sudah merasa ada yang salah dengan indra penciuman, karena saya merasa tidak bisa mencium bau minyak telon si kecil. Tetapi saya masih tidak yakin dan karena buru-buru mengerjakan kesibukan yang lain jadi saya tidak ambil pusing. Nah, tanggal 7 Juli itu saya benar-benar meyakinkan diri bahwa saya mengalami anosmia. 
"Yah, kok bunda gak bisa nyium bau minyak telonnya adek ya?!" kata saya ke suami waktu itu. 
"Yang bener? Jangan mengada-ada, Bun!" suami ikut kaget dan masih tidak percaya. 
"Iya, serius. Tuh kan... Gak bau sama sekali." Saya masih berusaha memastikan kondisi dengan mencium botol-botol yang lain. Minyak kayu putih, minyak rambut bayi, baby oil, lotion bayi sampai minyak tawon saya siram ke tangan pun tetap tidak bisa tercium baunya. Meskipun sudah saya oleskan banyak-banyak ke hidung, tetap nihil. Tidak ada bau sama sekali. 

Deg! Fix ini anosmia. Saya dan suami lemas seketika. Benar-benar shock. Apa iya saya positif? Apa cuma perasaan saja? Kok bisa? Karena masih ragu, saya langsung berlari ke kamar mandi, mencoba mencium bau-bau yang lain yang bisa saya temukan. Mulai dari sabun mandi, sabun cuci sampai karbol. Tapi tidak ada satu aroma pun yang berhasil menyusup lubang hidung saya. Walaupun panik sebenarnya, saya dan suami berusaha menenangkan diri. Saya bergegas memakai masker medis yang didobel lagi dengan masker kain. Dan cepat-cepat jaga jarak dari suami dan anak, walaupun mungkin terlambat karena bisa jadi sebetulnya saya sudah terpapar sejak beberapa hari yang lalu. 

Saya bilang ke suami, "Yah, jangan panik ya! Kalau ayah panik, bunda juga ikut panik." Meskipun hati dan pikiran sudah tidak karu-karuan. Jantung dag dig dug kencang. Terkejut, takut dan khawatir. 
"Ayah nggak panik, Bun. Tapi masih shock... "
Kami saling diam sambil memperhatikan si kecil yang asyik main sendiri, yang sempat terlantar sejenak karena kejutan mendadak yang menyita perhatian kami sepenuhnya. 
"... Toh Bunda nggak ada gejala aneh-aneh kan. Cuma anosmia," suami berusaha tetap tenang dan meyakinkan kami bahwa saya baik-baik saja, meskipun saya yakin dia pun pasti kalang kabut pikirannya. 

Perasaan kaget dan terkejut itu ternyata tidak mudah hilang begitu saja. Karena tidak ingin berlarut-larut, yang saya yakini justru hanya akan memperkeruh suasana dan bikin stres, saya berusaha mengalihkan pikiran dengan kegiatan lain. Bersih-bersih rumah, menyapu sampai mengepel lantai. Sementara suami mengambil alih penuh tugas momong si kecil sambil menelpon saudara ipar yang kebetulan seorang nakes di salah satu rumah sakit di Jawa Timur. Saya dengar obrolan mereka dari jauh dengan jelas. Tentu saja topiknya tentang kejutan yang baru saja kami alami. Saudara ipar juga menanyakan kondisi saya dan gejala apa saja yang saya alami.

Sedikit cerita, beberapa waktu sebelumnya saudara ipar juga sempat dirawat di rumah sakit setelah dikonfirmasi positif pasca kontak erat dengan pasien Covid-19 di tempat kerja. Jadi beliau punya jejak yang pasti, jelas sebabnya, dari mana beliau tertular, dari siapa dan kapan. Nah, dalam kasus saya berbeda. Saya bukan pekerja, hanya ibu rumah tangga yang setiap hari di rumah mengasuh anak, suami dan mengurus rumah. Hampir tidak pernah keluar kalau tidak benar-benar butuh. Sekalipun keluar selalu berusaha taat prokes, pakai masker, jaga jarak dan lain sebagainya. Suami pun tidak jauh berbeda. Aktivitas rutin yang dilakukan di luar hanya ke tempat kerja. Ketemu orang yang itu-itu saja. Selesai kerja langsung pulang ke rumah. Bahkan sejak awal pandemi tahun lalu suami dengan terpaksa libur salat jamaah di mushola atau masjid dekat rumah. Hanya berjamaah dengan saya. Bayi kami apalagi. Tidak pernah diajak bermain di luar, malah seperti dikurung dalam kandang. Tidak pernah digendong atau interaksi dengan orang lain secara langsung. Karena itu ketika saya tiba-tiba anosmia, kami sempat bingung merunut dari mana saya tertular, kapan persisnya terpapar dan sudah berapa lama. Kami hidup bertiga saja di rumah yang sederhana di Surabaya ini. Lingkungan kami memang perkampungan padat dengan berbagai karakter dan isi kepala banyak orang. Tetapi bisa dibilang kami jarang sekali tampil atau ikut-ikutan kumpul warga. Lebih-lebih sejak pandemi seperti sekarang. 

Daripada pusing memikirkan dari mana dan bagaimana saya terpapar, saya pikir lebih baik fokus isolasi mandiri dan menjaga diri serta keluarga. Bagaimana dengan tes swab? Sejujurnya memang tidak saya lakukan, walaupun sempat terpikir untuk swab antigen di klinik kesehatan terdekat. Tetapi saudara ipar sudah sangat yakin saya positif Covid-19 dan menyarankan untuk fokus isolasi mandiri meskipun hampir tidak bergejala atau gejala ringan. Karena itulah saya katakan kalau saya mungkin termasuk kasus positif yang tidak terlaporkan secara resmi karena tidak punya data valid berupa hasil tes laboratorium, antigen maupun PCR. Lagipula, biaya tes swab antigen, apalagi PCR, juga tidak murah. Daripada dipakai tes lebih baik saya alihkan untuk suplemen dan vitamin yang saat itu lebih saya butuhkan. Jangan ditiru ya, yeorobun! Lebih baik tes jika memang dirasa ada yang tidak beres dengan kondisi tubuh diri sendiri, supaya lebih jelas dan pasti penyakitnya, sehingga bisa ditangani dan diobati secara tepat dan cepat. 

Setelah saya ingat-ingat lagi, ternyata saya pernah mengalami gejala lain sekitar seminggu sebelumnya. Kalau tidak salah, hari Minggu tanggal 27 Juni saya merasa ada yang tidak biasa. Sejak siang hari badan rasanya meriang dan puncaknya ketika tengah malam tubuh saya demam tinggi sampai 39.4 °C. Tidak bisa tidur nyenyak dan sakit kepala. Waktu itu saya pikir hanya demam biasa dan besok pasti sudah sembuh lagi kalau saya minum paracetamol dan multivitamin. Dan, qodarullah kok ya ndilalah keesokan harinya ketika bangun tidur kepala sudah tidak pusing, tidak meriang, sudah tidak demam dan suhu tubuh kembali normal 36.1 °C. Saya pun tetap beraktivitas seperti biasa. 

Hari Senin tanggal 28 Juni, ternyata gantian si kecil yang sumeng. Malamnya masih tetap sumeng meski tidak demam tinggi. Saya pun inisiatif memberi paracetamol bayi dengan harapan demamnya tidak memburuk dan paginya bisa kembali suhu normal. Selama satu hari itu suhu tubuh si kecil naik turun antara 35.7 sampai 37.7 °C. Meskipun keesokan paginya, hari Selasa, suhunya kembali normal, saya tetap merasa khawatir. Jadi pagi itu kami membawa si kecil ke dokter. Pulang dari dokter dengan sekantong obat dan vitamin, si kecil tetap baik-baik saja, bisa beraktivitas seperti biasa, tetap aktif. Yang berbeda cuma nafsu makannya yang menurun drastis. Hampir tidak mau makan sama sekali, hanya satu sampai dua suapan. Beruntung dia tetap mau menyusu bahkan lebih banyak daripada biasanya. Frekuensi menyusunya jadi lebih sering. Selama berhari-hari, hampir satu minggu lamanya, si kecil tidak mau makan. Hanya mau minum air putih dan susu. Segala macam resep masakan saya coba, tapi hasilnya nihil. Galau kan? Jelas! Apalagi berat badannya sampai anjlok satu kilo. Sudah diberi suplemen untuk meningkatkan nafsu makan pun nggak ngefek, yeorobun. Selain nafsu makan yang berantakan, keanehan lain yang dialami si kecil adalah suhu tubuhnya yang tidak stabil. Ketika siang hari suhunya normal, tetapi ketika malam hari badannya sumeng. Tidak sampai demam tinggi. Lalu kembali normal lagi ketika bangun pagi. Karena saya pikir hal ini wajar, dan ditambah lagi pendapat ibu saya yang juga meyakini kalau hal ini lumrah pada anak kecil, saya pun tidak berpikir lebih jauh. 

Dua hari setelah si kecil ke dokter, masih dalam masa perawatan, suami ikut-ikutan meriang. Badannya demam semalaman. Setelah minum paracetamol, suami kembali normal keesokan harinya dan pergi bekerja seperti biasa. Kira-kira begitulah, pasca demam singkat secara beruntun dan sembuh kami tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak ada gejala aneh-aneh yang dirasakan. Tidak ada pikiran macam-macam apalagi sampai mengarah ke positif Covid-19. 

Baru seminggu kemudian muncul gejala anosmia yang saya alami. Kalau dicermati lagi, mungkin sebetulnya saya sudah terpapar ketika pertama kali meriang dan demam beberapa hari sebelumnya. Kemudian anak dan suami tertular oleh saya dan ikut-ikutan demam. Bedanya, mereka mungkin dalam kondisi fit dan imun yang baik sehingga tidak menunjukkan gejala dan hanya saya yang anosmia. Atau mungkin si kecil yang lebih dulu mengalami anosmia dan ageusia (kehilangan kemampuan inda perasa) ketika nafsu makannya menurun selama beberapa hari itu, cuma tidak bisa mengeluh dan cerita karena belum bisa bicara. Wallahu a'lam, tidak ada yang tahu pasti. 

Yang jelas, sejak saat itu saya selalu memakai masker ganda di rumah 24 jam penuh. Tidak dilepas kecuali ketika makan, mandi dan wudhu. Menjaga jarak dengan anak dan suami. Lalu fokus mengkarantina diri sendiri. Mengenai apa saja yang saya rasakan dan saya lakukan selama isolasi mandiri, insyaAllah akan saya tulis pada postingan yang lain. Dari pengalaman ini, saya ingin berbagi pelajaran:
1. Jangan remehkan gejala demam atau meriang, atau bahkan gejala sekecil apapun yang tiba-tiba muncul pada diri sendiri maupun keluarga. Banyak kasus positif yang hanya menunjukkan gejala ringan bahkan tanpa gejala. 
2. Jika dirasa ada yang tidak biasa atau tidak beres pada tubuh, segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan agar bisa diketahui pasti penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat. Dengan situasi seperti sekarang, menebak-nebak saja tidak jarang justru bikin galau, apalagi tanpa pengarahan tenaga ahli bisa jadi malah memperburuk keadaan. 
3. Perketat lagi prokes! Prokes! Prokes! Kami yang sudah berusaha taat prokes semaksimal mungkin saja masih bisa terpapar. Apalagi yang abai dan tidak prokes sama sekali. 
4. Vaksin! Kalau ada kesempatan vaksin jangan dilewatkan. Terus terang saya sedikit menyesal karena belum vaksin. Sehari sebelum sadar kalau anosmia sebetulnya saya sudah mendaftar untuk vaksin via Halodoc. Tetapi keadaan berubah tiba-tiba dan memaksa saya untuk menunda vaksin. 

Akhir-akhir ini memang banyak sekali berita duka dan tidak menyenangkan lainnya yang sering kali membuat kita sedih. Kabar-kabar buruk yang tidak bisa kita kontrol seperti datang bertubi-tubi. Belum lama ini tidak hanya saudara ipar yang harus dirawat karena positif Covid-19. Sepupu kami yang di Malang juga harus diisolasi karena terpapar. Kerabat yang lain juga mengalami hal serupa. Teman-teman kami juga tidak sedikit yang mengabarkan sedang isolasi mandiri, dirawat di rumah sakit, bahkan ada pula yang masih kesulitan mendapat kamar perawatan ICU maupun IGD. Di antara kabar-kabar tersebut ada pula yang harus gugur karena melawan Covid-19. Semoga kita semua selalu dilindugi oleh Allah. Yang sakit semoga lekas sembuh dan pulih. Yang positif semoga segera negatif. Yang sehat semoga tidak sampai sakit. Kesehatan itu benar-benar nikmat dan karunia Tuhan yang sangat besar dan patut disyukuri namun sering kali kita lupakan. 


Sunday, June 20, 2021

Resep Bolu Kukus Santan

DISCLAIMER. Resep-resep yang dibagikan di blog ini adalah koleksi pribadi. Sengaja di-post di sini supaya tersimpan, tidak tercecer dan mudah dicari lagi ketika dibutuhkan. Sebagian besar resep di blog ini adalah hasil olah pikir sendiri, namun ada pula yang berasal dari tempat lain kemudian dimodifikasi. Penulis berterima kasih jika ada yang recook atau menggunakan resep-resep di blog ini sebagai sumber. Pesan penulis, jangan lupa credit ya! Semoga bermanfaat. 

Bolu Kukus Santan Pelangi

Bahan-bahan:

  • 150 gram terigu segitiga biru
  • 150 gram gula pasir
  • 150 ml santan cair
  • 2 butir telur
  • 1 sdt SP
  • 1 sdt baking powder
  • Pewarna makanan secukupnya

Cara membuat:

  1. Sambil memanaskan kukusan, campur gula, telur dan SP dengan mixer kecepatan maksimal hingga kental berjejak. 
  2. Setelah mengembang, masukkan baking powder, tepung terigu dan santan secara bergantian sedikit demi sedikit lalu aduk dengan spatula. 
  3. Bagi adonan menjadi tiga dan beri pewarna makanan merah, kuning dan hijau atau sesuai selera. 
  4. Masukkan adonan merah pada loyang yang telah diolesi minyak dan sedikit tepung agar tidak lengket. 
  5. Kukus adonan merah pada panci pengukus yang sudah panas sebelumnya selama 8 menit. 
  6. Tuang adonan kuning kemudian kukus kembali selama 8 menit. 
  7. Tuang adonan hijau kemudian lanjutkan proses mengukus selama 20 menit. 
  8. Periksa kematangan dengan tusuk gigi atau sate. Setelah matang angkat dan biarkan dingin sebelum dikeluarkan dari loyang. 
  9. Siap disajikan. Bisa diberi toping sesuai selera

This entry was posted in

Monday, May 3, 2021

[Day 21] Kegiatan Favorit bersama Keluarga ketika Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh semua umat Islam di dunia. Banyak sekali keistimewaan yang ada di bulan suci ini. Bagi sebagian orang, bulan Ramadhan adalah masa-masa indah karena bisa berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Tidak perlu heran, karena tidak sedikit orang yang di hari-hari biasa jarang berkumpul dengan anggota keluarganya. Bisa karena kesibukan kerja, sekolah, kuliah, atau merantau ke luar kota. Bulan Ramadhan bisa menjadi momen untuk mengumpulkan kembali anggota-anggota keluarga yang biasanya disibukkan dengan kegiatannya masing-masing.

Meskipun suasana tersebut sekarang berbeda karena terhalang oleh situasi pandemi, tetapi tidak ada salahnya untuk mengingat kembali memori Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Setiap keluarga mungkin mempunyai tradisi khusus atau kegiatan favorit tersendiri yang dilakukan selama Ramadhan. Seperti kegiatan-kegiatan-kegiatan di bawah ini yang menjadi favorit keluarga kami. 

1. Buka bersama dengan menu favorit keluarga

Salah satu yang paling ditunggu-tunggu ketika Ramadhan adalah momen buka bersama dengan keluarga di rumah. Semua anggota keluarga, yaitu Bapak, Ibuk, adik, saya dan suami duduk mengelilingi meja makan. Setelah seharian sibuk dengan pekerjaan masing-masing, berbuka puasa menjadi momen penting untuk kembali mengumpulkan seluruh anggota keluarga. Tidak cuma makan, kami sering bergurau bersama, melontarkan candaan-candaan lucu, dan juga saling bertukar cerita tentang hari itu. Tanpa sadar, ternyata bisa makan makanan keluarga di tengah kehangatan orang-orang tersayang adalah suatu anugerah dan nikmat yang luar biasa dan tidak ternilai harganya. 

2. Menyiapkan menu berbuka di dapur

Kegiatan ini menjadi favorit saya dan Ibuk. Selain menu favorit keluarga, seperti sayur bening dan lalapan, biasanya kami juga memasak hidangan request anggota keluarga yang lain. Adik saya misalnya, yang suka meminta dibuatkan oseng-oseng usus ayam dan telur orak-arik kecap. Sedangkan suami saya biasanya order masakan yang lebih rumit seperti bali telur dan tahu, sarden ikan homemade, atau kari ayam pedas. Bapak lebih sederhana. Cenderung tidak meminta macam-macam. Apapun yang ada di atas meja makan, itulah yang dimakan. Asalkan ada sayur kangkung dan sambal, everything is alright. Tidak lupa takjilnya, es blewah dan sirup. 
Menyiapkan menu berbuka di dapur bersama Ibuk sangat menyenangkan. Saya bisa belajar resep-resep menu keluarga yang khas ala Ibuk. Kami juga bisa saling bertukar ide tentang masakan yang dibuat. Dan sebagai sesama perempuan, saling curhat di tengah-tengah aktivitas memasak, adalah momen yang tidak pernah terlewatkan. Momen seperti ini yang selalu kami rindukan ketika saya jauh dari rumah. 

3. Berburu kue dan busana lebaran

Menjelang lebaran biasanya banyak diskon dan promo spesial di berbagai tempat perbelanjaan. Mulai dari kue lebaran, baju dan busana muslim, mukena, hingga toples kue lebaran. Nah, momen inilah yang biasanya kami manfaatkan dengan sebaik mungkin. Untuk kue yang tidak kami buat sendiri di rumah, seperti aneka wafer, biskuit dan cookies, biasanya kami beli di supermarket atau pasar tradisional. Busana lebaran juga tidak boleh dilewatkan. Banyaknya diskon dan promo yang bertebaran, serta model-model yang menarik, sering kali membuat lapar mata tak berkesudahan. Terutama busana perempuan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk aksesoris, semua dipotong harga gila-gilaan. Pilihan pun bertebaran karena tempat belanja juga kian banyak jumlahnya. Tinggal disesuaikan dengan selera dan budget masing-masing. Kalau sudah begini, siap-siap saja merogoh dompet lebih dalam. Hihi. 

4. Membuat kue suguhan lebaran

Nastar, kastengel, pastel kering dan kue sagu keju adalah beberapa jenis suguhan lebaran yang harus ada di rumah kami. Saya dan adik adalah penggemar berat nastar dan kastengel. Bisa langsung habis satu toples sekali makan. Rasanya seperti belum lebaran kalau belum makan nastar. Suami lebih menyukai kue yang asin dan gurih, seperti pastel kering isi abon. Sedangkan Bapak lebih klasik, lebih memilih kue-kue jadul seperti sagu keju dan sagon. Karena kesukaan kami beragam dan tidak cukup makan satu toples, Ibuk memilih untuk membuatkan sendiri kue-kue favorit kami. Selain untuk isian toples dan disuguhkan kepada tamu, sebetulnya kue-kue ini lebih banyak masuk ke perut kami. Haha. 

Biasanya satu atau dua minggu sebelum lebaran, saya dan Ibuk mulai sibuk membuat kue. Ibuk paling tidak tahan kalau sudah mendekati hari H lebaran, kue-kue belum masuk di toplesnya masing-masing. Belum tenang katanya. Yang paling asyik dari membuat kue lebaran adalah saya bisa melupakan semua beban atau pikiran yang mungkin saat itu sedang membuat galau. Membuat adonan, memanggang kue dan menghiasnya bisa menjadi media refreshing tersendiri sekaligus sarana aktualisasi diri. Kalau ada waktu dan bahan baku lebih, kadang kami juga bereksperimen dengan mengembangkan resep-resep sesuai kreativitas. Seru kan? 

Nah, itu tadi adalah kegiatan-kegiatan favorit yang biasa kami lakukan di keluarga kami. Keluarga lain mungkin mempunyi tradisi unik yang lain dan berbeda. Bagaimana denganmu? Mari kita berharap agar pandemi ini segera berlalu, sehingga Ramadhan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya kita bisa kembali berkumpul dalam pelukan hangat keluarga masing-masing. Aamiin. 

Sunday, May 2, 2021

[Day 20] 6 Perbedaan Puasa di Tengah Pandemi dan Situasi Normal


Tahun ini adalah tahun kedua kita menjalani ibadah puasa Ramadhan di tengah pandemi. Semua orang tentu saja rindu suasana Ramadhan yang normal seperti dulu, sebelum pandemi mewabah secara global. Tahun lalu kita harus salat tarawih di rumah, salat ied secara terbatas dengan prokes tegas, silaturahmi dan anjang-sana-sini dibatasi. Tahun ini rupanya kita masih harus bersabar dan menahan diri lagi. 

Ibadah puasa sejatinya memang menahan. Menahan rasa haus dan lapar sepanjang hari. Menahan nafsu dan amarah yang tak jarang tiba-tiba diuji. Menahan tutur kata dan tingkah laku agar tidak menyakiti orang lain. Dan di situasi seperti sekarang ini, menahan rindu untuk berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara di kampung tak pelak juga menjadi ujian yang harus kita jalani. Siapa yang tidak rindu masakan ibu di kampung halaman.
Ramadhan di tengah pandemi memang kadang rasanya berat. Selain berbeda dengan Ramadhan biasanya, karena pandemi tidak sedikit di antara kita yang juga diuji dengan musibah bertubi-tubi, seperti masalah ekonomi dan kesehatan. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama pandemi satu tahun terakhir. Berikut ini adalah beberapa contoh perubahan yang paling nampak dan kita rasakan ketika Ramadhan di tengah pandemi. 

1. Tidak bisa beribadah di masjid dengan leluasa

Ibadah di masjid yang paling identik dengan bulan Ramadhan adalah salat tarawih. Bisa jadi momen ini adalah salah satu suasana yang paling dirindukan di bulan Ramadhan. Selain menjanjikan pahala salat jamaah yang berlipat ganda, momen ini juga bisa menjadi sarana mempererat kebersamaan dan kekeluargaan dengan orang-orang di sekitar kita. Bagaimana kita berbondong-bondong ke masjid, berkumpul hingga berbincang-bincang setelah salat jamaah turut menambah semarak syiar Ramadhan. Sayangnya, di tengah situasi pandemi tradisi seperti ini sulit bahkan tidak bisa kita lakukan. Demi keamanan dan keselamatan bersama, kita diimbau untuk salat jamaah di rumah masing-masing bersama keluarga. Masjid dan surau tidak jarang yang ditutup untuk khalayak ramai. Kalau dibuka pun terbatas untuk kalangan sekitar saja. Tidak hanya salat jamaah fardu atau tarawih, ibadah lain seperti i'tikaf juga tidak bisa kita kerjakan. Sebagai gantinya, kita bisa mendisiplinkan diri untuk tadarus Al-Quran dan dzikir di rumah. Selain menguji kemampuan tajwid dan tartil, aktivitas ini juga bisa membuat hati dan pikiran kita tenang. Kapan lagi ngabuburit di rumah sambil memanen pahala bersama orang-orang terdekat yang kita kasihi? 

2. Jauh dari keluarga dan kerabat

Kehangatan di tengah-tengah keluarga juga menjadi momen yang selalu dirindukan ketika Ramadhan. Tetapi sejak tahun lalu rasa rindu berkumpul dengan orang tua, adik dan kakak harus ditahan sekuat tenaga demi kebaikan bersama. Terutama bagi kaum rantau, bulan puasa ketika jauh dari keluarga terasa berat dan kadang menyesakkan dada. Kalau dulu kita bisa mendengan gedoran pintu ayah ketika membangunkan sahur, sekarang kita hanya bisa mendengar missed call berkali-kali dari ponsel yang selalu standy by di samping bantal tidur. Kalau dulu kita bisa request menu buka puasa kepada ibu di rumah, sekarang kita cuma bisa menelan ludah melihat foto menu berbuka yang dikirim ibu di pesan WhatsApp. Kalau dulu kita bisa ngabuburit menonton acara tv favorit keluarga dengan adik dan kakak, sekarang kita cukup bercanda tawa melalui panggilan video di layar laptop. Kita memang harus sangat bersabar urusan rindu. Nanti ada waktunya kita bisa kembali bersama dalam pangkuan keluarga tercinta. Ketika semua sudah kembali normal seperti sedia kala. 

3. Tradisi bukber lagi-lagi harus tertunda

Salah satu penyesalan yang saya rasakan ketika Ramadhan dua tahun ini adalah tidak bisa bertemu dengan sahabat-sahabat untuk berbuka bersama. Bulan Ramadhan yang identik dengam tradisi buka bareng dengan teman dan kolega, kali ini harus tertunda sampai waktu yang entah kapan pastinya. Bagi sebagian kita, momen buka bareng bisa jadi adalah satu-satunya waktu yang paling tepat untuk berkumpul kembali dengan sahabat-sahabat tersayang yang sudah lama tidak kita jumpai semenjak lulus kuliah. Terlepas dari bumbu-bumbu dan chit-chat yang menyertai rangkaian acara buka bersama, kumpul-kumpul dengan teman senasib seperjuangan juga bisa menjadi ajang silaturahmi dan bertukar pikiran. Siapa tahu ada kawan yang menawari lowongan pekerjaan di perusahaannya. Atau justru kita bisa menggaet kawan yang belum juga dipinang perusahaan impiannya sehingga masih belum memiliki pendapatan tetap. Karena situasi pandemi seperti ini, ajang temu kangen dan buka bareng harus dilakukan secara virtual. Tentu saja tanpa acara makan-makan. Nah, hikmahnya adalah kita semakin mengerti makna persahabatan dan betapa berharganya memiliki teman. Selain itu, ajang gosip, pamer dan nyinyir juga semakin berkurang, lho! Betul kan? 

4. Tidak ada rutinitas berburu takjil menjelang berbuka

Di bulan puasa jalan-jalan dan gang-gang kampung seperti disulap menjadi pasar atau bazaar. Berbagai macam minuman dingin, gorengan, kudapan manis, hingga kue lebaran, bisa kita pilih sesuka hati. Banyak orang berubah menjadi pedagang dadakan untuk menjajakan jualannya. Tak jarang, jalanan menjadi macet karena riuhnya orang yang berburu menu takjil dan buka puasa. Tetapi itu dulu, sebelum pandemi melanda. Dua tahun ini pemandangan seperti itu tidak bisa kita jumpai. Dengan adanya larangan berkerumun dan pembatasan fisik yang membuat kita harus saling menjaga jarak dengan orang lain, kegiatan bazaar dan berburu takjil harus ditiadakan. Tidak hanya bazaar, larangan ini juga berlaku untuk semua kegiatan yang menimbulkan keramaian seperti tasyakuran atau selamatan, maupun majelis taklim dan pengajian. Meski demikian, kita tetap bisa menambah wawasan ilmu keagamaan kita dengan menyimak kajian melalui saluran streaming media sosial atau layar tv. Pun dengan hidangan takjil dan berbuka. Kita bisa membuatnya sendiri sekaligus sambil mengasah kreativitas kita di dapur. Kita bisa memadukan buah-buahan, susu, yoghurt dan sirup menjadi salad buah yang dingin dan menyegarkan kerongkongan. Bisa juga ditambahkan es krim atau parutan keju sesuai selera sehingga makin menarik dan kaya rasa. Menarik bukan? Banyak resep yang bisa kita modifikasi menurut selera masing-masing. Dengan menyiapkan menu takjil dan berbuka secara mandiri tentunya higienitas hidangan yang kita konsumsi akan lebih terjamin higienitasnya. Tertarik mencoba? 

5. Cobaan kesehatan, ekonomi dan sosial

Pandemi global yang sedang melanda ini rupanya berimbas pada sebagian besar sektor kehidupan. Yang paling nampak nyata dan kita rasakan adalah imbas di sektor kesehatan, ekonomi dan sosial. Bagaimana sektor yang lain? Tentu saja ada dampaknya, seperti pada pendidikan, pariwisata, industri, pembangunan, hingga politik. Tetapi yang ingin saya garis bawahi adalah kesehatan, ekonomi dan sosial. Karena pandemi ini banyak sekali orang yang penghasilannya berkurang. Bahkan tidak sedikit pula yang harus kehilangan pekerjaan. Diakui atau tidak, semakin banyak warga yang kesusahan dan terpuruk kondisi ekonominya. Belum lagi kalau ditambah dengan ujian sakit. Terkonfirmasi positif Covid-19 misalnya. Atau sakit yang lain. Bisa juga orang tua atau saudara yang sakit. Tentu akan semakin menambah penderitaan yang dirasakan. Deretan ujian yang menyertai pandemi ini juga berdampak pada kondisi psikis atau mental seseorang. Di bulan puasa yang sarat ujian kesabaran ini, kita dituntut untuk ekstra-lebih-lagi bersabar. Bukan hanya sabar menahan amarah dan nafsu, tetapi juga sabar menghadapi setiap cobaan. Nah, yang perlu kita ingat adalah Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan. So, tetap semangat dan optimis yuk! 

6. Tidak ada tradisi mudik

Salah satu tradisi yang juga identik dengan bulan Ramadhan adalah mudik atau pulang kampung. Menjelang lebaran Idul Fitri semua orang pulang ke kampung asalnya masing-masing untuk berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. Terminal bus, stasiun kereta api, bandara hingga pelabuhan ramai diserbu para pemudik. Jalan-jalan raya juga dipadati angkutan lebaran, baik pribadi maupun umum, roda 4 maupun roda 2. Bahkan, stasiun tivi sampai-sampai harus membuat liputan khusus mudik lebaran. Suka cita menyambut kepulangan anak dan kerabat juga tak kalah meriah. Segala macam hidangan dan jajanan dibuat khusus untuk orang-orang tercinta yang akhirnya pulang dari perantauan. Sayangnya, tradisi mudik ini harus kita relakan lagi tahun ini. Dua tahun tanpa mudik ke kampung halaman tercinta memang tidak mudah. Tetapi semua ini demi orang-orang yang kita sayangi di rumah. Daripada pulang membawa penyakit dan menularkan kepada keluarga, lebih baik mudik kita tunda dulu sampai situasi yang lebih aman dan kondusif. Berat memang, tapi semua demi kebaikan bersama. 

Protokol kesehatan dan pembatasan sosial memang membuat semarak Ramadhan kurang terasa. Tetapi bukankah ini juga termasuk ujian dalam menjalani ibadah puasa di bulan suci ini? Bukankah Allah menjanjikan pahala yang luar biasa bagi hamba-Nya yang mau bersabar? Meski berat, ibadah individu tetap harus semangat dan khidmat. Semoga Allah menguatkan batin dan bahu kita agar segera terbebas dari pandemi ini, ya! 

Saturday, May 1, 2021

[Day 19] Yang Dirindukan ketika Bulan Suci Ramadhan

Sejak menikah Juni tahun 2018 lalu, sejujurnya saya belum menghabiskan waktu ramadhan penuh di Kota Batu, tempat kelahiran saya. Ada rasa rindu yang beribu-ribu. Sehingga saya berencana untuk mewujudkannya tahun depan, insyaAllah. Rencana ini tentu sudah saya bicarakan dengan pasangan. Alhamdulillah, beliau mendukung dan memberi izin.
Bulan ramadhan adalah salah satu momen yang paling yang tunggu-tunggu sejak kecil. Suasana khas bulan puasa memang selalu meninggalkan kesan mendalam dalam memori dan sanubari. Lebih-lebih suasana bulan puasa di kampung kelahiran. Saya rasa setiap umat Islam di dunia selalu menunggu datangnya bulan suci yang sangat istimewa ini. Selain pahala ibadah yang berlipat ganda, banyak lagi keistimewaan lainnya yang sangat dinanti-nanti. Seperti malam lailatur qadar, nuzulul quran, dan tentu saja malam takbiran.

Dari sekian banyak keistimewaan dan suasana ramadhan, yang paling saya rindukan adalah suasana di kampung halaman. Bisa terawih berjamaah di mushola dekat rumah, tadarus bersama hingga momen bancakan seperti megengan dan maleman. Megengan adalah tasyakuran yang dilakukan ketika menyambut datangnya bulan suci ramadhan, sedangkan selamatan maleman biasanya dilakukan ketika malam ke-21 dan 29 ramadhan. Warga kampung akan berduyun-duyun membawa hidangan selamatan berisi nasi kebuli, sambal goreng kentang, ayam goreng, perkedel dan pelengkap lainnya, ke mushola kampung kami untuk dimakan bersama setelah doa yang dipimping oleh imam.

Suasana ngabuburit dan buka bersama dengan keluarga, menikmati takjil es campur dan menyantap hidangan berbuka, juga menjadi momen yang paling ditunggu setelah sehari penuh berpuasa. Selain itu, membuat kue lebaran seperti nastar, butter cookies dan choco chips, tidak boleh dilewatkan dari daftar aktivitas favorit bersama keluarga. 

Intinya, banyak sekali yang dirindukan saat ramadhan. Tetapi dua tahun ini harus tertahan karena situasi pandemi yang membuat lingkup gerak kita menjadi sangat terbatas. Ibadah terawih dan sholat ied tidak seleluasa dahulu. Pun tradisi mudik harus ditunda dulu sampai waktu yang entah kapan. Semoga pandemi segera berlalu. Semoga dunia segera pulih. Dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.